Sultanking, juga dikenal sebagai seni ramalan atau dowsing air, adalah praktik kuno yang telah digunakan selama berabad-abad untuk menemukan sumber air bawah tanah. Secara tradisional, peramal akan menggunakan alat atau instrumen, seperti tongkat bercabang atau batang logam, untuk mendeteksi keberadaan air di bawah permukaan bumi.
Meskipun praktik sultanking telah dilakukan selama ribuan tahun, praktik ini tidak lagi disukai di era modern karena munculnya teknologi yang lebih maju untuk mencari lokasi perairan, seperti pengeboran dan pencitraan satelit. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap raja sultan meningkat kembali karena masyarakat mencari metode yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dalam mengakses air.
Salah satu alasan meningkatnya minat terhadap sultanking adalah kesederhanaan dan aksesibilitasnya. Berbeda dengan pengeboran atau pencitraan satelit, yang memerlukan biaya mahal dan peralatan khusus, sultanking dapat dilakukan dengan peralatan sederhana yang tersedia dan terjangkau. Hal ini menjadikannya pilihan yang menarik bagi individu dan komunitas yang ingin mencari sumber air tanpa mengeluarkan banyak uang.
Selain itu, sultanking dipandang sebagai pendekatan eksplorasi perairan yang lebih ramah lingkungan. Dengan menggunakan alat dan metode alami, peramal dapat menemukan lokasi air tanpa mengganggu lingkungan sekitar atau membahayakan ekosistem setempat. Hal ini sangat penting terutama di wilayah yang sumber daya airnya langka dan konservasi merupakan prioritas.
Dalam beberapa kasus, sultanking bahkan ditemukan lebih akurat dibandingkan teknologi modern. Para peramal mengklaim bahwa kemampuan mereka untuk mendeteksi perubahan halus dalam energi dan getaran bumi memungkinkan mereka menentukan sumber air dengan tingkat akurasi yang tinggi. Hal ini menyebabkan keberhasilan penemuan air di daerah dimana metode lain gagal.
Sebagai akibat dari faktor-faktor ini, popularitas sultanking kembali meningkat di seluruh dunia. Di negara-negara seperti Australia, Afrika, dan India, di mana kelangkaan air merupakan masalah yang mendesak, semakin banyak orang yang beralih ke peramal untuk membantu mereka menemukan sumber air untuk pertanian, air minum, dan keperluan lainnya.
Kesimpulannya, kemunculan raja-raja sultan merupakan bukti kekuatan kearifan kuno yang bertahan lama dan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan air berkelanjutan. Ketika masyarakat terus bergulat dengan tantangan kelangkaan air dan perubahan iklim, seni kesultanan menawarkan alternatif yang menjanjikan untuk mengakses sumber daya penting ini. Dengan kesederhanaan, aksesibilitas, dan pendekatan ramah lingkungan, sultanking siap kembali menjadi alat berharga untuk eksplorasi perairan di abad ke-21.
